20110424

Baca Ini Dulu Kalau Mau Pacaran (Khusus Cewek)

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVU7XjWVV2JVhlwzI3BfEVGi5d-zEVpyjSdTxwrWS-oG8wwUg0N1Dk8F0BJkO7ILyG8yIA15EGfHoH01_SMBt5X70C3WFE0O-4vzoP_vN6YH_Rd0RZN1lArYb7bNBHZjqUEWbhimLP82c/s400/Pacaran+-+panas+terik.JPG



 “Bebz, ntar malam ada acara gak?” tanya Aldi

“Hmmm… Gak ada sih. Emang kenapa?” Lina bertanya kembali.


“Malam ini jalan yuk!”


“Boleh, tapi jam 7-an ya?”


“Sippp” tutup Aldi mengakhiri pembicaraan teleponnya.


Aldi dan Lina sudah 4 bulan ini berpacaran. Mereka sudah merasa sangat mengenal dengan waktu yang sesingkat itu. Sudah genap 2 tahun mereka kuliah di kampus dan angkatan yang sama pula. Di kota Jogja inilah mereka berkenalan dan akhirnya berkomitmen untuk menjalin hubungan tak resmi, pacaran.


Aldi remaja yang pandai bergaul, dan dulunya terkenal playboy. Saat masih duduk di bangku SMA itu sudah menjadi hal biasa oleh rekannya. Sedangkan Lina adalah mahasiswi yang terpandang di kampusnya, karena kecerdasan lebih yang dimilikinya. Tak heran jika setiap tahunnya biaya kuliah selalu mengandalkan beasiswa. Mereka berdua berangkat dari luar daerah Jogja.

Malam ini adalah malam minggu, seperti biasa kawula muda selalu mengaitkannya dengan hura-hura dan waktu untuk berduaan dengan kekasih. Begitupun dengan Aldi dan Lina, sebagai remaja tentu mereka juga ingin warna tersendiri dalam mempererat hubungan mereka.

“Hai sayang… Sudah siap” sambut Aldi melihat pacarnya menunggu di teras kos.


“Ihhh… Sudah lama tahu nuggunya!” gerutu Lina pertanda kesal pada Aldi karen telat.


“Kita mau kemana nih?” tanya Aldi


“Kaliurang aja yuk!”


“Ok Bebz!” Aldi lantas menarik gas motornya berlaju kencang.



“Yahhh… Kok hujan sih?” keluh Lina


“Kita berhenti dulu ya?” usul Aldi


“Ya deh”


Mereka berteduh di bawah sebuah kios yang sudah tutup. Lina merasa kedinginan, karena hanya memakai hot pan dan T-shirt putih lengan pendek. Sadar akan hal itu, Aldi menyematkan jaketnya ke tubuh pacarnya.


Tak berapa lama setelahnya, hujan agak reda. Tapi waktu sudah menujukkan pukul 20:00, itu artinya tak banyak lagi waktu untuk berduaan.


“Bebz, kita ke kosku aja yah?” usul Aldi


“Ngapain? lagian masih hujan”


“Kita makan malam di sana aja, di sebelah kos kan ada mini cafe tuh. Ntar kita pesan makanan, terus makan di kos aja”


“Terserah deh, tapi jangan malam-malam. Jam 10 kosku dikunci tuh sama Ibu”


Merekapun menuju kos Aldi yang tak jauh dari tempat mereka berteduh. Kost itu terbilang bebas jika dibandingkan dengan yang lain. Nampak ada beberapa cewek yang bebas keluar masuk kamar cowok di situ. Pacar atau tidak hanya mereka yang tahu.



“Bebz, nih makanannya” Aldi membuka pintu dan tanpa sengaja melihat Lina membuka laptopnya.


“Bebz, videomu kok aneh-aneh sih?” tanya Lina dengan nada lembut.


“Haaaa? Video apaan?”


“Ini nih, kamu jorok ihhh!” Lina tampak jijik dan beranjak dari kursi belajar. Mungkin juga Ia kecewa dengan Aldi. Ini kali pertamanya Lina masuk ke kost pacarnya. Ia shock dengan salah satu isi file di laptop Aldi, adalah video BF (Blue Film).



Masih terbayang di pikiran Lina bagaimana aksi dari dua jenis kelamin berbeda di dalam video tadi. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa cowoknya penikmat video semacam itu. Bukannya Ia tidak pernah menonton aksi demikian, tapi tentu tidak sampai menjadi koleksi seperti itu.


Tidak lagi Ia bernafsu dengan santapannya malam itu. Yang ada dipikirannya hanya satu, aksi porno tadi. Di dalam hatinya ingin sekali bertanya pada lelaki di hadapannya. Tapi tentu Ia punya rasa besar yang tak memungkinkan, yakni malu.


Ahhh… sudahlah, dia juga pacarku tidak masalah jika saya bertanya-tanya tentang hal itu. Lina berbisik dalam hati.


“Seperti apa sih rasanya seks itu?” Ia tampak gugup dan nafasny memburu. Takut jika Aldi akan marah besar.


“Hahaha… Kamu kok nany gitu sih?”


“Ahhhh… Kamu ditanyai malah ketawa doang. Jawab dong?”


“Hmmmmm… Gimana ya?”


“Apa benar sedahsyat yang dikatakan orang?” tanyanya penasaran.”


“Saya sih juga gak tahu, cuma nonton dan baca doang”


Mereka kembali terdiam. Makanan itu tiba-tiba habis dan tak berasa. Benar-benar tak ada rasa, Aldi pun yang semula menikmati juga demikian. Ia juga diliputi rasa gugup yang mendalam.


“Hujan makin deras aja Bebz?” sahut Aldi


“Ya nih, kayak mana ya?”


“Ya udah tunggu aja dulu. Masih ada setengah jam lagi nih sebelum kosmu tutup”


Sementara itu Lina nampak duduk di tepi kasur Aldi, duduk berselimut tebal. Aldi nampak sedang mengutak-atik ponselnya. Ia benar-benar bingung, sepertinya yang akan dikatakannya ini adalah salah. Tapi sisi lain inilah kesempatan besar untuk menanyakannya.


“Bebz?”


“Ya”


“Kamu sayangkan sama aku?”


“Loh, kok nanyanya gitu? Ya iyalah”


Degup kencang dadanya terus saja bertambah. Nafasnya menderu-deru tak karuan.


“Kira-kira pengorbananmu sampai mana Bebz?” tanya Aldi dengan nada terbata-bata.


“Pengorbanan? Lohhh… Ini bukan pengorbanan po?”


“Yaaa… Maksudnya yang lain?”


“Aduh aku gak ngerti deh!” cetus Lina.


Mendengar cetusan pacarnya Aldi seperti tak punya cukup keberanian untuk melanjutkan pertanyaannya.


“Sayang menurut kamu, keperawanan penting gak sih?”


“Ihhhh… Nanyanya ngacok gitu sih?”


“Ini serius Bebz”


“Lohhh… Itu kan sudah komitmen semua cewek Bebz, jadi gak mungkin lah saya gak mempertahankannya. Kenapa? Kamu ragu ya?” cetus Lina


“Gak Bebz. Cuma mau tahu aja”



Sudah pukul 21.00 hujan juga masih belum mereda, bahkan semakin deras saja. Sudah terlambat untuk meminjam jas hujan di tetangga kos. Mereka sudah pasti tidur lelap. Pulangpunm masih harus bertaruh antara diijinkan masuk atau tidak.


Tampak Lina sedang berdiri bersandar di pintu kos Aldi. Lina terlarut dalam lamunan bersama rintik-rintik hujan malam itu. Masih kuat ingatannya dengan video di laptop Aldi tadi.


Tiba-tiba,


“Lina ku sayang” Aldi memecahkan lamuna Lina denga pelukan diperutnya.


“Uhhhh… Bikin kaget aja. Apa-apaan sih kamu”


“Sayang, aku mau kita selalu bersama”


“Ya… Terus?”


“Kita abadikan saja malam ini?”


“Maksud kamu?”


“Kalau bukan sekarang kapan lagi Bebz?”



Seakan mengikuti rayuan setan dan nafsunya dalam dinginnya malam, Lina seakan terhipnotis oleh Aldi. Kini mereka duduk di tepi kasur sambil menonton TV. Tidak tahu lagi apa yang mereka tonton. Mereka hanya sibuk dengan mesranya percintaan mereka. Tidak teringat lagi untuk pulang, karena nikmatnya berbagi kehangatan.


“Tapi sayang… Saya masih virgin”


“Sayang… Sekarang sudah gak jaman perawan-perawanan, ayolah nikmati saja selagi hidup” Aldi mencoba merayu.


“Tapi kan gak harus sekarang?”


“Trus kapan lagi”


“Bebz, kalau harus menunggu, itu terlalu lama. Kalau kamu gak sayang, lupakan saja cinta kita” Aldi seolah merajuk kecewa.


“Tapi Bebz, saya takut hamil”


“Tenang sayang, sudah saya persiapkan semuanya. Gak ada masalah deh”


Malam itu akan terasa sangat sulit bagi Lina untuk menghindar. Tak tahu lagi Ia mengapa dengan mudahnya kini dalam pangkuan Aldi. Elakannya hanya berakhir sia-sia.


“Sayang dengar aku” Aldi memalingkan wajah Lina menghadapnya


“Kamu adalah bagian dari hidupku, begitupun aku. Suatu saat kamu akan menjadi istriku, itu harapan kita bersama ka?”


Lina hanya bisa menganggukk, pertanda setuju.


“Jika nanti ada apa-apa, saya siap bertanggung jawab. Aku pasti menikahimu. Jujur Bebs, jiwa ragaku hanyalah untukmu, tidak ada gadis lain selain dirimu. Semua untukmu dan kukorbankan untukmu”.


“Bebz… Jika kamu benar-benar cinta, sayang sama aku. Kamu gak tegakan lihat aku menderita seperti ini?”


“Ini adalah bukti bahwa kita merelakan semuanya untuk bersama nanti. Percayalah sayang…”


“Hmmmmmmmmmmmm………………”




3 minggu kemudian…..


“Aldi….!” teriak Lina


“Mana janjimu…. Mana?”


“Bebz”


“Apa? Kamu biadab… Cowok sialan!”


“Tunggu dulu Bebz”


“Apa? Kamu masih mau mengeluarkan kata-kata manismu itu? Tidak berengsek….!”


Seisi cafe tampak tertegun melihat drama itu. Lina tak meyangka bahwa akan seperti itu akhirnya. Aldi tiba-tiba menikahi gadis yang lebih dulu ditidurinya. Kini Lina hanya sendiri menanggung semua.


“Appaaaaaa?”


“Ya Pa… Saya khilaf” Lina sembari manangis mengadu pada Papanya.


“Papa kecewa sama kamu. Sudahlah… Hentikan saja kuliahmu”


“Anak tidak berguna…. Memalukan keluarga…. !” sambung Papa Lina dengan amarah yang semakin menjadi.


“Pa…Paaaaaa….!!!!” Lina hanya bisa berteriak.




Seks pada dasarnya merupakan dorongan naluri atas kepuasan nafsu syahwat. Inilah yang membawa dampak buruk bagi kehidupan modernitas anak muda sekarang. Sistem pergaulan demikian cenderung minimalis dalam ikatan moral dan kepatuhan terhadap hukum-hukum agama.

Seks di luar nikah kian populer di kalangan remaja. Hal ini bisa saja terjadi karena faktor lingkungan baik berupa tekanan dari teman-temannya ataupun dari pacarnya sendiri. Terlebih denga dorongan emosional terhadap nafsu untuk melakukan seks yang beujung pada keingintahuan terhadap perilaku seks. Inilah yang disebut dengan riset partisipatif pribadi, dimana mereka mencobanya sendiri berdasarkan pengetahuan yang ada baik majalah, video, film atauun TV. Walhasil terjadilah perilakuk yang menunjukkan adanya kecanduan seks.

Bagi kaum remaja, saya berpesan. Jagalah kehormatanmu dengan sebaik-baiknya masa depanmu. Ingatlah selalu orang tuamu di rumah. Mereka ingin menangis haru bagahia atas suksesmu, bukan tangis karena menanggung rasa malu.

Ungkapan-ungkapan rayuan dari drama tadi adalah satu contoh yang menunjukkan bahwa pasangan Anda akan terus berusaha mencari celah agar tidak lagi menunda-nunda hubungan seks yang didinginkannya. Setelahnya, tanpa dikira kepuasan adalah segalanya. Sehingga cinta dan kasih sayang kian menghambar. Semua hanya akan meragi dan akhirnya menjamur menjadi satu penyesalan yang tiada tara telah menghancurkan masa depan.



Lindungi diri Anda wahai Gadis! 

No comments:

Post a Comment